Aset Warisan Budaya

Relief Bebitra

Warisan budaya dibedakan menjadi dua kategori utama: tangible (benda) yang mencakup aset fisik seperti monumen, bangunan bersejarah, dan artefak yang dapat disentuh, serta intangible (takbenda) yang mencakup nilai non-fisik seperti tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual, dan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Aset Benda (Tangible Heritage)

Relief Bebitra berada di kawasan Pertapaan Gunung Kawi Bebitera, Gianyar, Bali. Relief ini dipahat pada dinding batu padas dan berasal dari masa Hindu–Buddha.

Relief I (Bagian Timur Sisi Selatan)

Menggambarkan dua tokoh laki-laki dan perempuan, bagian wajah aus dan retak.

Relief II (Bagian Timur Sisi Utara)

Menggambarkan kalasungsang dengan dua relief Dwarapala, retak akibat kelembaban.

Relief III (Bagian Barat Sisi Utara)

Menggambarkan Garuda dengan detail aus dan tertutup lumut.

Panil Relief Tantri I (Bagian Selatan Sisi Barat)

Menggambarkan pertarungan lembu Nandaka dengan patih Anjing Sembhada.

Panil Relief Tantri II (Bagian Tengah Sisi Barat)

Menggambarkan Patih Anjing Sembada beserta tentara anjingnya dalam perjalanan.

Panil Relief III (Bagian Utara Sisi Barat)

Menggambarkan Raja Singa Pinggala dan Patih Sembada beserta anjingnya.

Ceruk I Sisi Utara

Ceruk I berada di dinding sebelah timur menghadap ke barat, berjajar dengan relief panil yang terbentuk.

Ceruk II Tengah (Timur)

Ceruk II sejajar dengan ceruk I berada di dinding sebelah timur menghadap ke barat yang berjajar dari utara ke selatan dengan panil relief, lubang ceruk lebih kecil dari ceruk I berbentuk seperti huruf ‘n’.

Ceruk III (Sisi Timur)

Ceruk berbentuk kubus dengan genangan air dan reruntuhan batu.

Ceruk IV (Sisi Barat)

Ceruk di sisi barat dengan bentuk tidak beraturan dan beberapa bagian dinding ceruk patah.

3D Areal

Eksplorasi objek secara mendalam melalui tampilan 3D yang memungkinkan pengamatan detail dari berbagai perspektif secara lebih dekat dan nyata.

Aset Tak Benda (Intangible Heritage)

Pujawali Pura Bukit Bitera

Upacara di kawasan Pertapaan Gunung Kawi Bebitra, yang juga dikenal sebagai Relief Bebitra, dilaksanakan setiap enam bulan sekali, bertepatan dengan hari Purnama Kapat dan hari Purnama Kadasa, bersamaan dengan pelaksanaan pujawali di Pura Bukit Bitera. Rangkaian upacara ini merupakan bagian penting dari tradisi spiritual masyarakat setempat yang bertujuan untuk menjaga kesucian dan keseimbangan kawasan pertapaan.

Pada Purnama Kapat, rangkaian upacara dimulai tiga hari sebelum puncak pujawali dengan pelaksanaan pecaruan ayam brumbun di pelinggih atas. Selain itu, di area pesucian atau petirtaan juga dilaksanakan pecaruan ayam selem (hitam). Rangkaian upacara ini bertujuan untuk menetralisir, mereresik, serta membersihkan kawasan suci dari pengaruh negatif, sehingga tercipta keharmonisan antara alam, manusia, dan lingkungan spiritual.

Dua hari sebelum puncak pujawali, dilaksanakan prosesi nyangling atau ngingsah sebagai bagian dari tahapan persiapan upacara. Puncak pujawali dilaksanakan pada pagi hari dengan prosesi mesucian.

Sementara itu, pada Purnama Kadasa, rangkaian upacara diawali dengan pecaruan ayam brumbun yang dilaksanakan lima hari sebelum puncak pujawali. Empat hari sebelum puncak pujawali, kembali dilaksanakan prosesi nyangling atau ngingsah. Pada saat puncak pujawali, dilakukan prosesi nunas tirta untuk keperluan upacara di Pura Bukit Bitera. Prosesi nunas tirta ini secara khusus hanya dilaksanakan oleh jero mangku, mengingat sebelumnya telah dilakukan prosesi ngelis di segara.