Sejarah

Relief Bebitra

Relief Bebitra, atau yang sering disebut sebagai Situs Pertapaan Gunung Kawi Bebitra, adalah salah satu peninggalan purbakala yang sangat penting di Kabupaten Gianyar, Bali. Berlokasi di Banjar Roban, Kelurahan Bitera, situs ini merupakan bagian dari cagar budaya nasional yang menyimpan kekayaan sejarah dari masa Bali Kuno. Sejarah Pertapaan Gunung Kawi Bebitera berkaitan erat dengan asal-usul terbentuknya Desa Bebitera, yang kini dikenal sebagai Desa Bitera. Menurut keterangan beberapa tokoh adat Desa Bitera, kawasan pertapaan ini merupakan peninggalan dari Desa Peling, sebuah desa kuna yang menjadi cikal bakal berdirinya Desa Bebitera.

Berikut adalah penjelasan mengenai sejarah dan keberadaan relief tersebut:

Awal Mula Relief Bebitra

Relief Bebitra diyakini berasal dari masa Bali Kuno, sekitar abad ke-10 hingga ke-14 Masehi. Situs ini memiliki kesamaan gaya (stilisasi) dengan situs-situs tebing lainnya di Gianyar, seperti Candi Tebing Gunung Kawi Sebatu dan Yeh Pulu.

Secara historis, situs ini dikaitkan dengan Desa Peling, sebuah desa kuno yang diyakini sebagai cikal bakal Desa Bitera sekarang. Menurut tradisi lisan masyarakat setempat, Desa Peling dahulu dipimpin oleh Mas Pahit, seorang pemimpin yang dikenal tegas dan bijaksana.

Konflik yang terjadi antara Mas Pahit dan wakilnya, Wedang Serawah, menjadi awal runtuhnya Desa Peling. Setelah peristiwa tersebut, desa mengalami kehancuran yang ditandai dengan wabah dan serangan semut api, sehingga masyarakat terpaksa meninggalkan desa dan mengungsi ke hutan Bengkel. Dalam kondisi tersebut, masyarakat kemudian dipimpin oleh I Dewa Gede Kesiman dan sepakat membentuk desa baru bernama Bebitera, yang bermakna benih yang menolong atau mengatur. Nama Bebitera kemudian berubah menjadi Bitera hingga dikenal saat ini.

Cerita Pada Relief

Hal yang paling menonjol dari Relief Bebitra adalah penggambaran cerita Tantri Kamandaka (cerita fabel dalam tradisi Hindu). Relief ini dipahat langsung pada dinding tebing padas. Beberapa fragmen cerita yang tergambar antara lain:

  • Persahabatan Singa dan Lembu: Mengisahkan hubungan antara Raja Singa (Pinggala) dan Lembu (Nandaka).

  • Adu Domba: Cerita ini berujung pada pengkhianatan dan adu domba yang dilakukan oleh karakter Anjing (Sembada), yang menyebabkan perpecahan antara Singa dan Lembu.

  • Kisah Swargarohanaparwa: Sebagian relief juga diyakini menggambarkan perjalanan Yudistira menuju surga bersama seekor anjing yang setia.

Fungsi Situs Sebagai Pertapaan

Keberadaan lorong-lorong atau ceruk di situs ini menunjukkan bahwa tempat ini dulunya berfungsi sebagai tempat pertapaan (kuti/vihara) bagi para pendeta atau rsi. Terdapat ceruk besar yang menghadap ke selatan, yang dulunya digunakan sebagai tempat meditasi untuk mencari ketenangan spiritual di tepi sungai.

Pertapaan Gunung Kawi Bebitera hingga kini masih disakralkan. Selain berfungsi sebagai tempat pertapaan, kawasan ini juga berfungsi sebagai petirtaan yang memanfaatkan sumber mata air alami. Air suci dari petirtaan ini digunakan secara simbolis sebagai tempat pembersihan sesuhunan Pura Bukit Bitera, terutama saat pelaksanaan pujawali, sehingga menunjukkan kesinambungan fungsi spiritual dari masa lalu hingga sekarang.

Air petirtaan bersumber dari mata air di sisi barat laut dinding pertapaan, yang kemudian dialirkan ke pancuran berbentuk tonjolan serta ke pancuran Garuda melalui jalur air (jaladwara). Namun, kondisi jaladwara yang telah rusak menyebabkan air tidak lagi mengalir secara optimal ke pancuran tersebut.

Pendapat tersebut sejalan dengan keterangan tokoh adat setempat. Hasil wawancara dengan Kelian Pangemong Pura Bukit Bitera menyatakan bahwa Pertapaan Gunung Kawi Bebitera berfungsi sebagai tempat pesiraman atau pembersihan ida sesuhunan yang berstana di Pura Bukit Bitera. Pada saat pelaksanaan pujawali atau piodalan di Pura Bukit Bitera, seluruh sesuhunan dibawa ke kawasan pertapaan untuk dilakukan pembersihan secara simbolis. Hal ini menunjukkan bahwa Pertapaan Gunung Kawi Bebitera memiliki dua fungsi utama dalam kehidupan masyarakat, yaitu sebagai tempat pertapaan dan petirtaan.

Status Saat Ini

Saat ini, Relief Bebitra telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional (melalui SK Menbudpar tahun 2011). Situs ini tetap dijaga kesuciannya oleh masyarakat setempat dan sering dikunjungi baik untuk tujuan penelitian arkeologi maupun wisata religi (spiritual).

Pembahasan Relief Bebitra